MANASIK UMRAH

MUQADDIMAH

Menunaikan Ibadah Umroh bagi kebanyakan orang lndonesia adalah pekerjaan yang tidak mudah. Ia memerlukan kemauan yang kuat dan kemampuan yang memadai. Ada banyak orang yang sudah mampu, tapi belum mempunyai kemauan. Dan lebih banyak lagi yang sudah mempunyai kemauan tapi belum mempunyai kemampuan yang cukup.

Oleh karena itu, pergi menunaikan Ibadah Umroh bagi rata-rata orang Indonesia saat ini dirasakan sebagai keberuntungan besar. Maka sangat sayang rasanya kalau keberuntungan menunaikan ibadah Umroh itu tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Semua amal ibadah dalam Islam, termasuk Ibadah Haji dan Umroh, yang terbaik adalah yang terkumpul di dalamnya dua hal:
- Dikerjakan semata-mata karena Allah (ikhlash). Artinya yang menjadi satu-satunya pendorong dilakukannya ibadah itu adalah mengharapkan ridlo Allah swt. tidak terikut didalamnya harapan men-dapat pujian orang, gengsi dan lain sebagainya.
- Dikerjakan sesuai sunnah Rasulullah SAW (ittiba’) Karena selain Rasulullah SAW tidak seorangpun yang mengetahui cara beribadah yang diridloi oleh Allah SWT.

Kalau dalam mengamalkan ibadah yang lain, orang sudah sulit beribadah dengan ikhlas semata-mata karena Allah swt., maka dalam ibadah Haji dan Umroh, karena menyangkut kemampuan harta, ikhlas itu lebih sulit lagi, sehingga Allah perlu memberi peringatan tentang keikhlasan dalam menunaikan Haji dan Umroh itu dalam Al-Qur'an. FirmanNya :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah Haji dan Umroh karena Allah”. (Al Baqarah 196).

Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan sabda beliau:
يأتى على الناس زمان يحج أغنياء أمتى للنزهة وأوسطهم للتجارة وقراءهم للرياء والسمعة وفقراؤهم للمسألة - رواه ابن الجوزى
“Akan datang suatu masa kepada manusia dimana orang-orang kaya dari ummatku melaksanakan ibadah haji untuk berwisata, kalangan menengah dari mereka untuk berdagang, kalangan ilmuwan (public figure) karena riya dan popularitas, dan kaum fakirnya karena untuk meminta-minta”. (HR Ibnu l-Jauzy)

Kalau dalam hal shalat Rasulullah SAW memberi perintah:

صلوا كما رأيتمونى أصلى

"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat". (H.R. Ahmad dan Muslim).

Maka dalam hal Haji dan Umroh beliau juga memberi perintah:
خذوا عنى مناسككم
“Ambillah cara mengerjakan Haji dan Umrohmu dari aku”. (H.R. Muslim dari Jabir).

Bagi orang yang ingin menunaikan Umrohnya dengan cara yang paling diridloi oleh Allah SWT, tentunya selain menjaga agar niatnya benar-benar karena Allah SWT, tidak tercampur riyaa, 'ujub, sum'ah dan takabbur; ingin sedapat-dapatnya menunaikan ibadah umrohnya sesuai dengan contoh Rasulullah SAW, serta memohon ampun atas segala kekurangan-kekurangannya sebagai akibat kelemahan-kelemahan manusiawinya. Dan untuk itulah, mudah-mudahan buku ini dapat membantunya… Amien, ya Robbal ‘Aalamiin.

Penyusun,
H. Mahfuddin Akhyar, Lc